DINDING

DINDING - Hallo sahabat kumpulan cerita horor seram dan novel indonesia, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul DINDING, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Cerita Seram, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : DINDING
link : DINDING

Baca juga


DINDING


Aku dan istriku baru pindah ke apartemen baru.
Apartemen itu termasuk kecil; hanya ada dapur,satu
kamar tidur,satu kamar mandi, dan ruang keluarga.
Semua bagian ruangan juga termasuk kecil, Kami tidak begitu memusingkan hal ini karna harga sewanya lumayan murah. Aku dan istriku tidak punya cukup uang untuk menyewa apartemen lain lagi, jadi kami berusaha membuat kami merasa nyaman di apartemen baru kami ini.

Satu hal teraneh disini adalah dinding bagian kiri seperti berongga, seperti ada ruang didalamnya. Sedangkan dinding sebelah kanan terbuat dari beton yang kokoh. Aku tidak menyadari hal ini saat pertama kali kami pindah. Tetangga kami sangat
individual sekali. Ketika kami pindah, satu-satunya
tetangga yang beramah tamah pada kami adalah
pasangan White. Pasangan itu tinggal tepat di sebelah apartemen kami,dan mereka adalah pasangan tua (kakek-nenek). Mereka sangat baik. Ketika pertama kali kami datang, mereka membawakan kami hadiah “welcome to the building”, yang mana selalu mereka
lakukan pada setiap penghuni baru apartemen. Mereka memberi kami beberapa potong pie apel yang sangat lezat.

Sekitar lima atau enam bulan setelah aku dan
istriku pindah, datang seorang pria yang baru pindah juga, yang kamarnya tepat disebelah kamar kami. Aku ingat pertama kali kami bertemu. Saat itu, aku baru pulang dari membeli bahan-bahan makanan, dan ketika aku menaiki tangga, secara tidak sengaja aku menabrak seseorang dibelakangku. “Maaf, permisi tuan...” Tapi aku tidak tahu siapa nama pria ini. Gedung apartemen kami sangat kecil, jadi sangat memungkinkan seseorang mengetahui sesorang lainnya.

Pria yang aku tabrak itu kira-kira berusia setengah
baya. Mungkin 50 tahunan. Dia agak sedikit aneh, kurasa. Diwajahnya banyak kerutan karna usia,
kulitnya putih pucat, dan rambut panjang hitamnya
yang berminyak tidak terawat. Dia kelihatan tidak
begitu sehat dan perlu ke dokter. Matanya berwarna
ungu gelap, aku belum pernah melihat mata seperti itu sepanjang hidupku. “Peters” pria itu tersenyum lebar. Giginya sangat menjijikkan, seperti tidak pernah dibersihkan sehingga kotorannya terlihat membusuk disela-sela giginya. Aku
dapat mencium bau busuknya dari tempatku, yang
mana seperti bau busuk dari sisa daging yang telah
membusuk. Tapi, diluar penampilanannya yang 'menakutkan', dia cukup baik.

“Senang bertemu anda, pak Peters. Namaku Matt.
Apakah kau baru di apartemen ini?” tanyaku. Senyum tuan Peters menjadi makin lebar. Seperti ditarik dari sisi telinga kiri sampai ke telinga kanannya. Aku heran, bagaimana bisa manusia bisa tersenyum selebar itu. “Ya, saya baru pindah, dan tinggal tepat disebelah kamarmu.” Dia berkata ketika kami berdua melangkah naik kelantai atas.
Ketika kami sampai dilantai atas, pak Peters melangkah dengan cepat ke pintu, membukanya, dan menutupnya segera. Itu sangat aneh, pikirku. Dia sangat cepat. Aku menghela nafas. “Bagus, sekarang aku punya tetangga yang aneh”gerutuku.

Jam menunjukkan pukul 4 sore. Sandra, istriku, masih berada ditempat kerjanya. Dia seorang hair stylist, dan aku seorang chef di restoran Italia lokal. Tapi kini restoran itu telah tutup. Aku meletakkan belanjaanku ke meja dapur dan mulai untuk menatanya. Aku tidak belanja banyak, hanya
beberapa liter susu, mentega, daging asap, dan sekotak cereal.

Kemudian, aku mendapat sms sari temanku,
Tyler. “Bro, aku akan memberimu permainan baru
'The Red Dead Redemption', dan kau harus datang kesini untuk mengambilnya dan kita bisa bermain
bersama.” Begitulah isi pesannya. Sebenarnya
sekarang aku bukan lagi seorang pecandu game, tapi Tyler adalah teman terdekat ku yang aku punya saat ini, aku tidak ingin mengecewakannya. Kami sudah berteman sejak disekolah menengah. Aku dulu punya Xbox 360, Tyler dan aku akan bermain bersama sepanjang waktu.
Aku tidak mempunyai agenda atau sesuatu yang
menarik untuk ku lakukan hari ini, jadi aku membalas pesan Tyler mengatakan kalau aku akan pergi ketempatnya.

Ketika aku hendak pergi, aku mendengar suara gaduh yang keras berasal dari dinding. Aneh
sekali, karna itu terdengar begitu jelas. Aku mendekati sisi kiri dinding dan kuketuk halus dinding itu dengan jariku. Dinding itu seperti mempunyai rongga, seperti kayu. Lalu aku ke sisi sebelah kanan, aku mengulang mengetuk dindingnya, tapi dinding bagian ini adalah dinding yang padat, tidak berongga. Aku heran mengapa tukang bangunan yang membangun tempat ini membuat satu bagian dinding berongga dan bagian lainnya kokoh.
Tapi aku kira itu berasal dari kamarnya pak Peters.
Mungkin saja dia sedang berbenah apartemen barunya, batinku. Tapi, apakah itu benar? Dia tidak membawa apapun ketika aku melihatnya tadi. Aku mengangkat bahu ku, tidak tahu. Lalu segera pergi menemui Tyler.

Aku kembali ke apartemen sekitar pukul 5 dengan
game baruku, dan aku senang ketika aku kembali
suara gaduh dari pak Peters itu tidak terdengar lagi.
Aku tidak peduli apa yang dia dikerjakan, selama tidak benar-benar mengganggu. Aku menghidupkan game-ku dan memasang headset. Aku punya headset yang sangat bagus, headset nya menangkap suara dengan sempurna. Aku dan Tyler bemain online, jadi kami bisa bermain dari rumah masing-masing. Kami bermain hampir 3 jam. Sebenarnya aku ingin bermain lebih lama, tapi Sandra akan pulang sekitar pukul 8. Aku
memberitahu Tyler aku harus berhenti main sekarang, dan aku menawarkan padanya kalau kami bisa bermain lagi besok setelah pekerjaanku selesai.
Tyler tidak mempunyai pekerjaan, tapi dia memang tidak butuh pekerjaan, aku rasa. Ayahnya adalah seorang yang kaya yang mempunyai beberapa perusahaan minyak atau semacamnya, aku lupa persisnya. Tapi setahuku, ayahnya memanjakannya, memberikan dia uang berapa banyakpun yang dia minta, untuk melakukan hal-hal yang tidak berguna sama sekali.

Aku menghentikan permainan, dan beranjak dari kursi untuk memberikan Sandra sebuah pelukan hangat. Kami berbincang banyak hal, apa saja yang kami lewati hari ini. Kemudian aku teringat pak Peters. “Apakah kau tahu seseorang yang baru pindah disebelah kita?”tanyaku. Sandra berkata kalau dia tidak tahu. Aku merasa aneh dia tidak mengetahui pak Peters. Aku memutuskan untuk bertanya pada pasangan White besok pagi. Mereka mengetahui semua orang di gedung apartemen ini. Mereka mungkin sudah memanggang pie apel dan siap diberikan pada pak Peters.

Aku tidak bisa tidur nyenyak semalaman. Aku
bermimpi aneh tentang pak Peters. Dalam mimpiku dia berdiri diatas tempat tidurku, istriku ada disampingku juga. Pak Peters tersenyum mengerikan. Aku hendak melakukan sesuatu; membangunkan istriku, berlari dalam ketakutan, atau yang lainnya. Tapi aku mengurungkan niatku ketika pak Peters meletakkan telunjuknya ke bibirku dan dengan tenang mengatakan “Shhh” dengan lembut, dengan suara yang ramah. Aku merasa itu bukan seperti mimpi. Semuanya begitu jelas, aku masih mengingat semuanya dengan baik.
Tapi tidak mungkin juga itu nyata.

 Setelah tak bisa tidur semalaman, aku ingin mandi dan berniat sarapan. Aku mendengar lagi suara gaduh didinding pak Peters, tapi kali ini terdengar lebih pelan, dan.. Lebih mengerikan. Selesai mandi, aku kedapur untuk sarapan. Aku mendapati bahan-bahan yang ku beli kemarin dikulkas. Ada beberapa liter susu, mentega dan daging asap. Untuk cereal, aku letakkan di lemari. Tapi setelah aku cek, tak ada cereal disana. Aku melihat kesekeliling dapur, berharap aku secara tidak sengaja salah menempatkannya. Sandra bangun dan mendapatiku sedang kalut mencari sekotak cereal tadi. “Sandra, apa kau melihat cereal?” Aku bertanya padanya sambil terus menggeledah lemari-lemari dapur.
“Tidakkah kau meletakkannya disini?” jawabnya
sambil menunjuk tempat dimana aku dengan yakin
menempatkan cereal itu disana kemarin.“Ya, aku
bersumpah menaruhnya disana kemarin, tapi kemana itu sekarang? Tolong beri tahu aku kalau kau telah mengambilnya” kataku. Sandra menyangkal tuduhanku. Dan sepertinya tidak terlalu peduli perihal hilangnya cereal itu.
Apa yang terjadi? Pencuri masuk?
Tidak. Apakah pencuri mencuri beberapa kotak cereal? Ya, sudahlah. Aku mencoba melupakan kejadian aneh itu. “Aku kira beberapa kotak cereal itu mempunyai sepasang kaki dan berjalan keluar” gumamku. Seperti rencanaku sebelumnya, setelah Sandra pergi bekerja, aku pergi ke kamar apartemen pasangan Whites dan mengetuk pintunya.

Aku disambut oleh pak Whites “Hey, nak. Apa kabarmu pagi ini?” Dia bertanya dengan gaya khasnya yang ramah. “ Hey pak White. Aku baik-baik saja, terima kasih. Tapi aku datang kesini ingin menanyakan seseorang. Apakah kau sudah mendengar tentang tuan Peters?”tanyaku.
Tuan White mengerutkan dahi ketika aku bertanya
tentang itu. “Ok, Maaf. Aku tidak mengenalnya, Nak. Aku tidak tahu tentang dia, siapa dia?” tanyanya. “Dia baru saja pindah ke kamar sebelah kita. Aku
heran jika kau tak tahu siapa dia. Kalian pasti akan tahu bila ada seseorang yang baru saja pindah ke
apartemen ini” kataku lagi. Pak White tersenyum dan berkata, “baiklah, kita akan kesana dan melihatnya kalau kau mau.” Aku berfikir sejenak, lalu menerima tawarannya.

Aku dan pak Whites berjalan ke apartemen pak Peters, dan pak Whites mengetuk pintunya. Kami berdiri disana beberapa menit, yang ada
hanya kesunyian. Aku merasa aneh dengan tidak
adanya jawaban dari dalam. Kami tidak mendengar
keributan bahkan suara apapun dari dalam ruangan. “Hmm.. Dia pasti tidur.” Tebak pak Whites. Aku rasa itu masuk akal juga.“Baiklah, bagaimana jika kita datang lagi nanti, ketika dia sudah bangun?” Aku bertanya pada pak Whites dan dia menyetujui ajakanku dan mengatakan bahwa dia akan memanggangkan kue pie untuk pak Peters. Lalu kami berpisah. Aku pulang ke kamar dan menjalani
hariku seperti biasa. Aku mengganti pakaianku, dan kemudian sarapan sebelum aku kembali ke kamar tuan Whites.
Aku membuka kulkas, kali ini aku tidak menemukan susu. Aku mulai terasa terganggu. Apakah Sandra sedang mengerjaiku? Aku memutuskan untuk berbicara padanya ketika dia pulang nanti.
Setelah selesai sarapan dan merapikan rumah, aku
kembali lagi ke apartemen pak Whites. Aku mengetuk pintunya dan mendapati sesuatu yang tak ku duga sama sekali. Ny. Whites membuka pintu, air mata mengalir di pipinya dan matanya merah. “Hello, Matt.” Sapanya disela tangisnya. Aku merasa heran, sehingga menanyakan padanya apa yang terjadi.“George yang malang, George sayangku.” katanya. Kini aku tahu, pria yang aku dan Sandra kenal sebagai pak Whites, ternyata bernama depan Goerge. “Apa yang terjadi padanya?” tanyaku.“Dia pergi! Dia menghilang!” Ny. Whites berkata dengan tersedu-sedu. Pikiranku menyimpulkan satu kesimpulan; pak Peters.

“Ikuti aku sekarang” aku berkata pada Ny. Whites.
Aku segera menuju ke apartemen pak Peters. Meninju pintunya “Pak Peters! Buka pintunya sekarang juga!”. Sekali lagi, tetap hanya kesunyian yang terdengar. Sangat sunyi dan sepi. Ny. White datang berlari menyusulku.“Kau sudah memanggil polisi dan melaporkan tentang pak Whites?” aku bertanya. Dia mengangguk.“Mereka sedang dalam perjalanan sekarang dan aku telah memberitahu apa yang telah terjadi. Sekarang, mengapa kau membuat kegaduhan disini? Siapa pak Peters?” Aku menjelaskan semuanya padanya, wajahnya terlihat cemas.
Ny.White dan aku menunggu polisi datang, tapi sebelum mereka datang, aku melihat Sandra berjalan dilorong.“Apa yang sedang terjadi?” Dia bertanya pada kami. Aku memberi tahu semuanya padanya. Dari beberapa galon susu yang hilang sampai hilangnya pak Whites. Lalu, kami hanya saling berdiam diri, masih menunggu polisi datang.
Polisi akhirnya sampai ke apartemen, aku
menceritakan semuanya. Dua polisi itu saling pandang, dan mengetuk pintu, juga tak ada jawaban. Mereka pergi ke manajer gedung untuk mendapatkan informasi lebih, tapi manajer gedung mengatakan bahwa tidak ada seseorang yang bernama Peters di apartemen. Kedua polisi dan manajer kembali ke apartemen membawa serta kunci master bersama mereka. Mereka membuka pintu. Ketika pintu terbuka, yang ada hanyalah 'kosong'. Itu hanya ruangan yang kosong.
Kami semua berjalan masuk, bingung, terlebih lagi aku.

Kemudian, aku ingat sesuatu. Aku berjalan ke dinding, dan mengetuknya dengan tinjuku. Ruangan berongga itu menimbulkan suara. Aku memanggil semua orang yang ada disitu, dan menunjukkan fakta tentang dinding yang berongga. Hal itu membuat kedua polisi itu bergerak lebih cepat. Polisi itu berdiskusi, dan kami semua menunggu keputusan mereka. Akhirnya mereka memutuskan untuk meruntuhkan dinding tersebut, lalu meminta bantuan dari anggota polisi lainnya.

Singkatnya, beberapa polisi lainnya datang ke
apartemen untuk segera membantu melaksanakan apa yang sudah menjadi keputusan mereka. Dan apa yang aku lihat kemudian akan merubah hidupku selamanya. Itu merupakan pemandangan yang sangat mengerikan. Pak Peters berbaring santai disamping mayat pak Whites yang perutnya rusak parah dan hancur berantakan. Seolah-olah pak Peters menggunakan giginya untuk menggigit dan mengunyah robekan besar diperut pak Whites, dan kemudian menggunakan jarinya mengaduk-ngaduknya isinya. Tapi ada bagian yang lebih menakutkan , yaitu dalam perut yang terbuka itu, terdapat susu, cereal, dan darah. Ya, itu
barang-barangku yang hilang. Selain itu, tentu saja ada banyak darah. Darah pada semua bagian tubuh mereka berdua. Ny.White tidak tahan melihatnya, dia menjadi histeris, dan mulai muntah. Beberapa dari polisi pun juga muntah. Bahkan aku juga merasa begitu, tapi aku tahan.

Sesuatu yang seram lainnya adalah senyumnya.
Senyum yang sama seperti pertama kali aku
melihatnya, senyum yang membentang dari ujung
telinga satu ke ujung telinga lainnya. Polisi mengambil senjatanya dan membidikkannya ke
arah pak Peters. Tapi, pak Peters hanya tersenyum dan memandang lurus kemataku. Tatapannya membuat bulu kudukku meremang. Dia bangun dan melangkahi mayat pak Whites, matanya tak pernah lepas dariku. Senyumnya tetap sangat lebar. Polisi membawa pak Peters keluar dari apartemen, dan
memborgolnya.

Mayat pak Whites pun dibawa keluar dari dinding berongga. Ny.White menangis sepanjang
jalan. Aku benar-benar prihatin padanya.
Aku melihat Sandra, tidak tahu apa yang akan
kulakukan. Semua itu terjadi beberapa waktu lalu. Dan berita terakhir yang kudengar tentang pak Peters adalah dia dijatuhi hukuman mati.
Dan aku rajin mengunjungi seorang terapis setelah
menghadapi peristiwa yang sangat berat, aku
berkonsultasi seminggu sekali.

Perlu kau ketahui, ketika aku sedang menulis tulisan
ini, ada seseorang diluar sana sedang memperhatikanku. Jika kau mendengar suara atau
kegaduhan didinding atau diatapmu atau kau
mendengar suara gaduh lainnya di rumahmu, kau
mungkin merasa tidak perlu memeriksanya, karna itu mungkin saja hanya suara-suara biasa. Tapi, setelah kejadian ini, aku tidak akan membiarkanku mendengar suara-suara yang seperti itu lagi. Jika aku mendengar, aku akan langsung memeriksanya. Aku merasa sangat perlu berhati-hati sekarang. Aku masih paranoid.

Aku ingat suatu malam sekitar jam 3 pagi; aku mendengar suara gaduh di dapurku. Aku bangun
seperti yang selalu kulakukan, tapi kali ini berbeda. Aku melihat pak Peters tersenyum ke arah ku dalam
keremangan cahaya, giginya meneteskan seperti
cairan merah berlendir. Tapi ketika aku menghidupkan lampu, pak Peters sudah lenyap entah kemana. Aku tak tahu bagaimana ini bisa terjadi padaku. Aku tidak percaya pada hal supranatural atau apapun, tapi sekarang aku melihat dia. Dia sekarang berdiri
disana, melihat ke arahku. Tersenyum dengan senyum yang mengerikan seperti biasa.
_SELESAI_


Demikianlah Artikel DINDING

Sekianlah artikel DINDING kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel DINDING dengan alamat link https://ceritahororhantuseram.blogspot.com/2017/06/dinding.html